Jumat, 14 Agustus 2009

Cerita Ketika Hujan


Kukenakan sweater paling hangat yang kupunya, di luar hujan tidak terlalu deras, tapi angin yang bertiup mungkin cukup dingin. Aku berjalan menembus hujan, tidak seberapa jauh jalan yang akan kutempuh, namun cukup hingga hujan membawaku kepadamu.

Hujan pertama kita kala itu, kau dan aku adalah teman, di kamarku yang menghadap beranda, kita berbincang mengenai entah apa, aku lupa. Tiba-tiba hujan, kau melihat keluar, begitupun aku. “ Kau suka hujan?” tanyamu kala itu, “Ya” jawab ku, dan kitapun sama terdiam, melihat hujan jatuh di luar pintu kamarku.

Entah berapa hujan setelah itu, di Bogor, kau ingat? Angin yang kencang meniup dahan-dahan pohon di pinggir jalan kota Bogor, dan kita tertawa, berlari di bawah hujan. Tugas kuliah yang tak selesai, dan kita asik bermain hujan, tak sekali kita kehujanan di kota itu, iya, kan? Tapi kita selalu datang, selalu datang. Meski besoknya dan besoknya lagi kita selalu kehujanan, karena sepertinya, memang hujan yang kita cari.

Pernah sekali, di rumah sahabatmu, hujan deras datang. Sahabatmu yang sedang bersedih, hujan di hatinya, katamu berbisik kepadaku. Sahabat yang patah hati, kita temani saat itu, sambil menikmati hujan deras yang menderu.

Pernah kau bilang padaku, bila hari panas membakar kota kita, dan aku bertanya mengapa hujan tak juga turun, katamu “hujan malu, karena ada kau, ratu hujanku” ah, entah apa maksud ucapanmu saat itu.

Ujung celana jeansku sudah basah, kupercepat langkahku agar segera sampai. Seorang lelaki berjas hujan membelok cepat hampir menabrakku, ia menoleh sekilas dan kemudian kembali terburu-buru berjalan. Hujan selalu memburu, dan aku entah mengapa selalu suka memperhatikan orang-orang yang terburu di bawah hujan, tak jarang, akupun ikut terburu.

Di Kota Tua pernah sekali, hujan mengikuti kita, kemudian kita merapat, di pinggiran bangunan-bangunannya yang usang. “Kau lihat” katamu, “ dari tempat kita berdiri, masa lalu melihat kita, hujan yang turun, mungkin pernah pula turun ketika Belanda masih menguasai negeri kita, hujan yang sama, ketika salah seorang pahlawan di hukum mati di depan gedung Museum Fatahillah” itu katamu, dan aku hanya diam saja, memperhatikan jejak-jejak hujan, hujan dari masa lalu, seperti katamu.

Adakah hujan hari ini, yang jatuh di kepalaku, sama seperti hujan saat itu, saat kita melihat masa lalu di Kota Tua? Bila iya, pasti, paling tidak satu dari ribuan rinainya, ada yang mengenaliku hari ini. Lucu, entah sudah berapa lama dari waktu itu, semua yang sudah berbeda sekarang, tapi hujan tetap saja selalu sama, tak perduli kapanpun, dan aku tersenyum sendiri membayangkannya.

Bila saat ini di tempatmu pun hujan, mungkin rinai yang di sini akan berkata pada setitik rinai di tempat mu “ hey, lihat, dua orang yang sama, yang dulu pernah kita jumpai, di pinggiran Kota Tua.” Tentunya mereka, rinai-rinai itu, akan heran, betapa jarak kini membuat kita berjauhan.

Hujan di stasiun ketika kau pulang kemalaman, aku duduk merapat di sebelahmu, di bangku-bangku panjang dari besi yang membeku. Kita ditertawakan banci-banci, kau ingat? Banci yang seolah mengenal kita, mengetahui rahasia yang kita simpan rapat, dan kau ingat apa katanya? “hayo..selingkuh ya?” dia tertawa, dan kita ikut tertawa, begitu juga orang-orang di sekitar kita ikut tertawa.

Kau pernah memanggilku hujan, dan aku memanggilmu awan, hari ini apakah aku masih hujanmu? Kau, kau selalu jadi awan buatku, tak peduli kau di mana , tak peduli siapa yang kini kau anggap hujanmu, tak peduli bagaimana kau menganggap aku kini, apa kau masih mengingat aku?

Terakhir yang aku ingat, kita kehujanan di pinggir jalan kota Bandung. Dago sepi saat itu, hujan deras turun, dari mana kita waktu itu? aku tak dapat mengingat, hanya hujan deras, payung yang rusak membuatmu marah dan membentakku, seperti biasa. Kugenggam tanganmu, dan kuajak duduk di salah satu warung tenda ayam bakar, “kita makan dulu” kataku, kau diam saja mengikutiku duduk di warung tenda itu, pakaian mu basah, bibirmu pucat, begitupun aku.

Bertahun-tahun lewat, lebih banyak kenangan yang telah kita buat yang mestinya masih kuingat, tapi hanya bila hujan turun aku bisa mengingat sedikit tentangmu. Hujan tak menghapus kenangan, ia membawanya kembali, sebanyak rinai yang ia punyai.

Ku dorong pintu kaca di depanku, lonceng di atas pintu berbunyi, lelaki yang duduk di balik meja menoleh dan tersenyum padaku, “gimana filmnya, bagus?” tanyanya, aku mengangguk, ku keluarkan 2 kaset dvd dari kantong depan sweaterku, “enggak bawa payung? Kehujanan ya?” tanya lelaki itu lagi sambil menatapku, “hujannya nggak terlalu deras, kok” jawabku. “nih, ada film bagus, kamu pasti suka” katanya, aku mengangguk, lelaki itu mengetik judul film yang kupinjam di keyboard komputernya. Malam ini, seperti biasa, aku dan dua orang teman menghabiskan waktu bersama, dengan dvd-dvd film, tertawa, menangis, bercerita. Di luar, hujan telah berhenti, menyisakan tanah dan jalan-jalan yang seluruhnya basah. Aku tak mengingatmu lagi.


gambar: dari sini

Selasa, 11 Agustus 2009

catatan di malam insomnia


Aku membaca kalimat ini di buku yang baru aku baca: --kau tidak menyadari apa yang menjadi milikmu hingga kau menyingkirkannya--, lalu aku merasa sakit. Seperti membicarakan aku, lalu tentang kau.

Penyesalan sepertinya telah menjadi darah daging kini denganku, bukan, bukan apa yang terjadi dengan kita, tapi segalanya, segalanya aku sesali, kau mengerti? Menyesali bahwa aku sama seperti perempuan-perempuan di luaran sana, yang mudah jatuh cinta, percaya, setia, disakiti, kemudian menyesaIi keterlambatan. Aku tidak membicarakan tentang kita, tapi seluruhnya, karena apa yang terjadi dengan kita hanya sebagian kecil saja dari permulaan, tapi ya, yang terjadi dengan kita ternyata adalah awal kesalahan. Tidak harus berakhir seperti itu bukan? Banyak pilihan akhir yang lebih baik, yang bisa membawa kebaikan pula nantinya, tapi lagi-lagi, kesalahan yang datang dariku itu membutakan segala kebaikan. Kemudian di sinilah aku, menyesali, hidup dengan segala resah terpendam dan tak mampu lagi menikmati malam-malam tanpa mimpi buruk .

Aku tak lagi bisa kau percayai kan? Hari-hari mencari celah di hatimupun aku lewati, dan tak ada lagi celah itu, ini hanya tentang aku, tidak, tidak jangan libatkan Dia dulu, karena nanti sisa cerita ini juga melulu tentang dia, mungkin kau akan berkata, beginilah kau, masih begini, menangis mendekatiku, dan menjauh bila telah sembuh, ya, ini aku, tapi sembuh? Masih bisa tersembuhkankah aku? Sedang kau pun telah menjauh, tak lagi terjangkau tangisku.

Malam-malamku kini hanya ketakutan, melihat pagi lagi dan berhadapan dengan kesalahan yang berlarut-larut membawaku dalam penyesalan, kalaupun kau datang, aku tak lagi bisa terselamatkan. Aku telah kehilangan kemauan, berdiri diam di sini sendiri mempertahankan kesalahan. Hanya mencoba kuat, itu yang aku lakukan, menumpuk segalanya sendiri, dan memberinya nafas dendam tak berkesudahan, ya, aku menamainya dendam sekarang, ini pembicaraanku denganmu saja. Baiklah, kita besarkan berdua bila kau mau. Semua harus berakhir bukan? Tanpa ada lagi kesalahan, sabar adalah pupuknya, biarlah malam-malam resah itu tumbuh dan belum sembuh, tapi nanti pasti ada akhirnya, dan aku akan tertidur pulas, tanpa beban, tanpa resah, setelah penebusan rasa bersalah, dan nanti, meminta maaf adalah pekerjaan terakhirku, padamu, pada dia, pada hatiku, mungkin.

9 Agustus 2009









Tak ada penyesalan, hanyalah bohong besar, karena seperti inilah nyatanya, Kau telah menjadi dirimu yang sebenarnya---yang sangat bertolak dengan apa yang dulu kau perlihatkan padaku. Sama persis, dengan yang tak pernah aku harapkan ada padamu, lihat, itu semua mewujud, seluruhnya, ada padamu. Lalu bagaimana? Aku toh tak bisa beranjak lagi, Kau, katamu, tak akan bisa apapun, ya, aku memang tak bisa apapun lagi, kau benar.

Begitu muak aku mengingat segala masa lalu, dari mata saat ini, semua benar-benar palsu. Yang lebih membuat muak, segala seperti skenario jebakan, kau layaknya anjing-anjing yang mencari sumber tulang, aku lah mangsamu. Tapi sungguh, benar-benar dengan kerelaan aku masuk ke piringmu, buta bukan? Perempuan selalu mudah menjadi buta. Sekarang, begitu jauh aku dari mimpi-mimpi yang seharusnya bisa aku capai, tanpa seorangpun untuk menopang, kau, yang mencabutinya satu-persatu. Lau kenapa masih heran, bila kegilaan ini menenggelamkanku? Untuk tetap bernafas, dan tetap berdiri pongah kulakukan sepenuh hati.

Cinta? Jangan tanyakan lagi, telah lama kulapis dengan selimut-selimut paksa dan sakit hati. Jangan ajarkan perempuan berdusta, kau akan terkejut dengan cepatnya mereka mampu mengajarkannnya balik kepadamu. Bagiku, dunia kita hanya sandiwara besar, siang adalah lampu-lampu panggung tempat kata rindu dan cinta diobral, di atas tempat tidurku permainan usai, kubayar sandiwara itu dengan membasuh make up panggung dengan air mata sebelum tidur dan mimpi-mimpi buruk menyambut selagi tidur. Inilah yang kau dapat, karena hianat yang kau tanam di tiap-tiap sel yang kukorbankan untuk tetap setia kepadamu akhirnya bertunas juga.

Ada hari-hari ketika rasa muak itu tak terkendali, kubongkar dustaku sendiri, untungnya, caramu yang bodoh mengabaikanku, telah menyelamatkanku, hingga dusta itu tetap gelap di matamu, lihat, tuhan berpihak padaku kan? Tak ada cara bagimu membongkar sandiwara ini, aku tidaklah sepertimu, yang dengan bodohnya mengumbar kepalsuan di muka umum, kita dari awal memang berbeda bukan? Kau seharusnya tahu, sangat tahu, dalam hal apapun, aku jauh melampauimu, pongahkah terdengar? Hey, dari awal kita menyadarinya bukan? Aku telah menjanjikan kesetiaan, seperti sapi sawah yang tunduk pada petani, akupun akan menjadi budakmu. Kau yang merusaknya kan? Tapi, baiklah, aku ikuti saja apa yang kau mau. Bermanis-manis, menangis, berteriak-teriak bila perlu, kau suka itu? Ya, aku akan kalah, karena seperti tadi aku katakan, dengan rela aku masuk ke piringmu, jadi biarlah, kau tahu kau memegang kendali atasku, biarlah aku tetap bermanis-manis, menangis, dan berteriak-teriak bila perlu. Sampai nanti, cerita ini disetujui dan ditanda-tangani, baru aku selasaikan urusanku denganmu. Sekarang ini biarlah, silakan kau nikmati waktumu

.—dengan cinta (palsu)---

10 agustus 2009



sumber gambar: di sini

Senin, 06 Juli 2009

cita kecil dalam langkah yang kecil =)

ingin bisa,
mengasihi tanpa dengki,,
memberi tanpa menuntut,
mencinta tanpa curiga,

lalu,
bersama yang dikasihi,
bersama yang diberi,
bersama yang dicinta,
bisa membangun dunia bersama.
amin

Sabtu, 13 Juni 2009

nyeri

kini nyeri begitu setia, duduk termangu-mangu di dalam dada
sendirian saja.
kalau ditanya apa ia bahagia? ya, bahagia. tapi tetap nyeri ia bernama.
anak yang lahir dari luka
ku bawa-bawa, dan tak ada yang mampu memandangnya.
nyeri itu begitu rasa, meresap
menjadi satu bagian kini dengan jiwa
menagis aku, menangis ia. tertawa aku tertawa ia. bahagia aku, tetap nyeri ia bernama.
ah nyeri di dalam dada,
begitu setia memeluk, aku ibunya yang luka.

Rabu, 03 Juni 2009

waktu, masih terlalu cepat--

dan dibawanya lagi kau pergi
di ujung jalan bayangmu hilang
aku pulang, kau, ke sana ke sana jauh lagi
waktu, masih terlalu cepat
untuk menyempatkan kau di sini
cuma sebentar, ah
waktu
dalam hitungan apa? yang mampu memuaskan aku
selalu ada kau,
hanya kau
kau
waktu, masih terlalu cepat
dan kau dibawanya pergi

Selasa, 05 Mei 2009

senja


jadilah kekasihku yang baik, senja
biar sama-sama kita nikmati matahari yang perlahan mati
ku gandeng tangan mu dan biarkan jingga tubuhmu memelukku
jadilah kekasihku yang baik, senja

sumber gambar: sini

rindu

di jalan ini, dalam waktu kesekian. kita bertemu. lagi
masihkah ada tanya? siapa kau?
di antara kita, siapa menarik siapa?
sedang dalam sekian kalinya, kau-aku bertemu. lagi
siapa kau?
wajah hujan itu?
tubuh rindu dan akulah basuhmu dalam sepi, katamu. dulu
di jalan ini, untuk sekian kali
aku rindu