Kukenakan sweater paling hangat yang kupunya, di luar hujan tidak terlalu deras, tapi angin yang bertiup mungkin cukup dingin. Aku berjalan menembus hujan, tidak seberapa jauh jalan yang akan kutempuh, namun cukup hingga hujan membawaku kepadamu.
Hujan pertama kita kala itu, kau dan aku adalah teman, di kamarku yang menghadap beranda, kita berbincang mengenai entah apa, aku lupa. Tiba-tiba hujan, kau melihat keluar, begitupun aku. “ Kau suka hujan?” tanyamu kala itu, “Ya” jawab ku, dan kitapun sama terdiam, melihat hujan jatuh di luar pintu kamarku.
Entah berapa hujan setelah itu, di Bogor, kau ingat? Angin yang kencang meniup dahan-dahan pohon di pinggir jalan
Pernah sekali, di rumah sahabatmu, hujan deras datang. Sahabatmu yang sedang bersedih, hujan di hatinya, katamu berbisik kepadaku. Sahabat yang patah hati, kita temani saat itu, sambil menikmati hujan deras yang menderu.
Pernah kau bilang padaku, bila hari panas membakar
Ujung celana jeansku sudah basah, kupercepat langkahku agar segera sampai. Seorang lelaki berjas hujan membelok cepat hampir menabrakku, ia menoleh sekilas dan kemudian kembali terburu-buru berjalan. Hujan selalu memburu, dan aku entah mengapa selalu suka memperhatikan orang-orang yang terburu di bawah hujan, tak jarang, akupun ikut terburu.
Di Kota Tua pernah sekali, hujan mengikuti kita, kemudian kita merapat, di pinggiran bangunan-bangunannya yang usang. “Kau lihat” katamu, “ dari tempat kita berdiri, masa lalu melihat kita, hujan yang turun, mungkin pernah pula turun ketika Belanda masih menguasai negeri kita, hujan yang sama, ketika salah seorang pahlawan di hukum mati di depan gedung Museum Fatahillah” itu katamu, dan aku hanya diam saja, memperhatikan jejak-jejak hujan, hujan dari masa lalu, seperti katamu.
Adakah hujan hari ini, yang jatuh di kepalaku, sama seperti hujan saat itu, saat kita melihat masa lalu di Kota Tua? Bila iya, pasti, paling tidak satu dari ribuan rinainya, ada yang mengenaliku hari ini. Lucu, entah sudah berapa lama dari waktu itu, semua yang sudah berbeda sekarang, tapi hujan tetap saja selalu sama, tak perduli kapanpun, dan aku tersenyum sendiri membayangkannya.
Bila saat ini di tempatmu pun hujan, mungkin rinai yang di sini akan berkata pada setitik rinai di tempat mu “ hey, lihat, dua orang yang sama, yang dulu pernah kita jumpai, di pinggiran Kota Tua.” Tentunya mereka, rinai-rinai itu, akan heran, betapa jarak kini membuat kita berjauhan.
Hujan di stasiun ketika kau pulang kemalaman, aku duduk merapat di sebelahmu, di bangku-bangku panjang dari besi yang membeku. Kita ditertawakan banci-banci, kau ingat? Banci yang seolah mengenal kita, mengetahui rahasia yang kita simpan rapat, dan kau ingat apa katanya? “hayo..selingkuh ya?” dia tertawa, dan kita ikut tertawa, begitu juga orang-orang di sekitar kita ikut tertawa.
Kau pernah memanggilku hujan, dan aku memanggilmu awan, hari ini apakah aku masih hujanmu? Kau, kau selalu jadi awan buatku, tak peduli kau di mana , tak peduli siapa yang kini kau anggap hujanmu, tak peduli bagaimana kau menganggap aku kini, apa kau masih mengingat aku?
Terakhir yang aku ingat, kita kehujanan di pinggir jalan
Bertahun-tahun lewat, lebih banyak kenangan yang telah kita buat yang mestinya masih kuingat, tapi hanya bila hujan turun aku bisa mengingat sedikit tentangmu. Hujan tak menghapus kenangan, ia membawanya kembali, sebanyak rinai yang ia punyai.
Ku dorong pintu kaca di depanku, lonceng di atas pintu berbunyi, lelaki yang duduk di balik meja menoleh dan tersenyum padaku, “gimana filmnya, bagus?” tanyanya, aku mengangguk, ku keluarkan 2 kaset dvd dari kantong depan sweaterku, “enggak bawa payung? Kehujanan ya?” tanya lelaki itu lagi sambil menatapku, “hujannya nggak terlalu deras, kok” jawabku. “nih, ada film bagus, kamu pasti suka” katanya, aku mengangguk, lelaki itu mengetik judul film yang kupinjam di keyboard komputernya. Malam ini, seperti biasa, aku dan dua orang teman menghabiskan waktu bersama, dengan dvd-dvd film, tertawa, menangis, bercerita. Di luar, hujan telah berhenti, menyisakan tanah dan jalan-jalan yang seluruhnya basah. Aku tak mengingatmu lagi.
gambar: dari sini

